Selasa, 24 Februari 2015

Foto Levitasi

                                                                    
Foto levitasi adalah salah satu jenis tehnik photography yang memanfaatkan kecepatan rana tinggi.Cara kerjanya adalah dengan membekukan gerakan objek supaya tampak terlihat sedang melawan gravitasi.Ada dua cara untukdapat membuat foto levitasi,yaitu murni dengan menggunakan kamera atau melalui proses editing foto dengan menggunakan aplikasi tertentu.

Tehnik levitasi dipopulerkan oleh salah seorang photographer jepang bernama Natsumi Hayashi.Karena hasil foto yang ditampilkan terlihat begitu unik serta mudah dipelajari,membuat genre photoghrapy ini mudah berkembang dimana-mana.DiJakarta sendiri sudah bermunculan beragam  komunitas penggemar photography levitasi.

Untuk memperoleh hasil foto levitasi yang sempurna dibutuhkan beberapa trik.Salah satunya adalah dengan menempatkan angle kamera agar lebih rendah dari talent yang akan difoto.Hal ini agar menciptakan efek lompatan talent yang terlihat lebih tinggi dari aslinya.Hal lain yang tidak kalah penting adalah memperhatikan jumlah cahaya yang ada pada saat melakukan pemotretan.Sebab jika cahaya minim saat sedang melakukan pemotretan sedikit saja gerakan talent akan membuat hasil foto kurang fokus.Selain hasil foto kurang fokus disebabkan kamera kesulitan mencapai kecepatan rana yang maksimal.Maka dari itu sangat dianjurkan untuk membuat photograpy levitasi diluar ruangan.Minimal setting kecepatan rana kamera yang diperlukan adalah 1/250.

Membuat foto levitasi melalui proses editing foto,diperlukan sebuah aplikasi yang dapat memanipulasi foto digital.Salah satu aplikasi editing foto paling populer adalah Adobe Photoshop.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah meminimalisir mungkin gelembungan pakaian atau rambut yang berantakan saat talent melakukan gerakan melompat diudara.Untuk itu diperlukan peniti atau hair spray untuk mengatasi masalah tersebut.Sebab foto levitasi yang baik adalah menciptakan efek senatural mungkin supaya menggambarkan seolah model sedang melayang diudara.Hal lain yang sangat penting dan perlu diperhatikan adalah konsep.Biasanya semakin baik konsep foto levitasi semakin sempurna hasil foto yang didapat.

Untuk mencari hasil moment yang sempurna gunakan mode kamera continues shooting.Kemudian anda sendirilah yang memilih mana-mana foto yang menurut anda tampak sempurna.


Selasa, 17 Februari 2015

Shutter speed/kecepatan rana

Sudah disinggung ditulisan sebelumnya jika shutter speed/kecepatan rana adalah salah satu proses penting dari terciptanya sebuah foto dengan 3 unsur didalamnya yang disebut dengan exposure.Cara kerjanya adalah ketika photographer menekan tombol rana kamera secara penuh,shutter akan terbuka dan mengatup kembali sehingga membatasi jumlah cahaya yang masuk kedalam sensor kamera melalui bukaan lensa.

Ukuran kecepatan shutter ditentukan sendiri oleh photographer namun dengan memperhatikan kaidah yang ada dengan melihat ketersediaan cahaya pada saat hendak melakukan foto.

misalkan pada saat memotret malam hari dimana jumlah cahaya sangat sedikit,menginginkan shutter speed tinggi pada settingan kamera adalah suatu hal yang mustahil.Begitu pula sebaliknya ketika memotret pada siang hari saat cahaya melimpah,jika kita memaksakan settingan kamera pada shutter speed yang lambat hasil foto menjadi tidak seimbang karena foto akan menjadi overexposure atau terlalu terang.

Gambar Exposure dan contoh foto yang ditangkap  kamera
Ada 2 tipe jenis settingan shutter speed untuk membuat proses foto.Masing-masing tipe menghasilkan objek gambar yang berbeda.Kedua tipe tersebut terbagi atas : shutter speed tinggi dan shutter speed lambat.
shutter speed tinggi berguna untuk membekukan objek yang sedang bergerak,semakin tinggi settingan shutter kamera semakin baik kemampuan kamera  menangkap objek yang  bergerak lebih cepat.sebaliknya shutter speed lambat sangat payah untuk membekukan objek.Semakin lambat settingan shutter kamera semakin payah kamera membekukan gambar.Pada settingan shutter speed lambatlah resiko menghasilkan foto yang blur/tidak tajam sangat besar.

Contohnya jika kita memotret objek yang bergerak seperti pemain skate board yang akan melakukan aksi akrobatik dengan melompati beberapa orang yang sedang terbaring dipermukaan tanah,untuk dapat menangkap moment tersebut dengan baik dan detail maka menggunakan shutter speed yang cepat adalah keharusan.Semakin cepat mensetting shutter speed kamera semakin baik kamera menangkap adegan tersebut.Settingan ini juga sangat tepat untuk membuat foto Levitasi.
Umummnya Pada settingan shutter speed tinggi anda tidak begitu memerlukan tripod.

salah satu contoh foto menggunakan shutter speed tinggi. settingan
jenis foto ini masih dapat menangkap dengan baik objek yang bergerak cepat
Shutter speed lambat kebalikan dari shutter speed cepat.Sudah diterangkan diatas jika anda memaksa menggunakan settingan shutter speed lambat ketika akan memotret objek yang bergerak seperti contoh pemain skate board, maka hasilnya kamera tidak akan menangkap adegan dengan baik.

Namun shutter speed lambat juga dapat menghasilkan efek foto yang spektakuler untuk menangkap fota objek yang bergerak.Misalkan memotret air terjun atau lampu-lampu kendaraan yang melaju pada malam hari.Namun pada saat keadaan membuat foto dengan shutter speed yang lambat sangat disarankan untuk selalu menggunakan tripod.

salah satu contoh foto menggunakan shutter speed lambat


Jumat, 13 Februari 2015

Titik fokus pada kamera

contoh gambar titik fokus yang terdapat pada kamera

Sudah saya sebutkan pada artikel sebelumnya bahwa titik fokus adalah hal yang penting sebelum memencet tombol rana.Tanpa titik fokus yang benar,hasilnya kemungkinan besar akan mendapatkan hasil foto yang mengecewakan.Namun ada kalanya dengan titik fokus yang salah,atau jatuh tidak pada tempat yang  dikehendaki justru dapat menghasilkan  foto yang bagus diluar dugaan.Tentu hal itu hanya unsur kebetulan yang kemungkinannya sangat kecil.

gambar tombol titik fokus pada kamera
Sebetulnya jumlah titik fokus antar satu kamera dengan kamera lainnya berbeda.Untuk kamera low entry misalnya seperti Canon1100D,jumlah titik fokus yang dimiliki adalah: 9.Sedang untuk kamera yang lebih tinggi seperti Canon EOS 70D titik fokus yang dimiliki adalah: 19.Keuntungannya adalah semakin banyak titik fokus yang didapat pada sebuah kamera,semakin luas kendali fokus yang didapat kamera saat menangkap gambar.
Pada kamera merk Canon terdapat 3 mode AF yang dapat digunakan.Masing-masing mode dpt digunakan sesuai keadaan ketika melakukan pemotretan .

Gambar indikator auto fokus pada kamera Canon

1.One shot AF
Mode auto fokus ini menitik beratkan satu titik fokus yang ditentukan oleh photografer dengan menilai kekontrasan objek. Mode ini cocok untuk memotret objek yang statis atau tidak bergerak seperti foto potrait dan juga foto landskap.Cara melakukannya adalah ketika memencet tombol titik fokus yang ada pada kamera,dan kemudian menetukan dimana titik fokus yang diinginkan langkah selanjutnya adalah mengunci objek dengan setengah tombol rana,sampai mendapat indikasi bahwa kamera anda telah fokus pada objek.
2.Al servo
Pada kamera Canon mode ini disebut Al Servo,yaitu mode kamera auto fokus yang bertindak untuk mengunci objek foto yang sedang bergerak atau tidak statis.Mode ini sangat cocok saat membuat foto panning karena  fokus kamera dapat mengikuti objek yang sedang bergerak.
3. Al fokus
Mode auto fokus ini merupakan gabungan antara kedua auto fokus diatas.Mode ini cocok digunakan untuk pemula dimana anda tidak perlu mengganti mode auto fokus saat mendapatkan objek yang diam maupun bergerak.

Kamis, 12 Februari 2015

Memahami DOF ( Depth of Field )

Pada pembahasan sebelumnya saya telah menulis secara singkat mengenai apa exposure beserta 3 unsurnya yaitu: kecepatan rana ( shutter speed ),bukaan lensa ( Aperture ), dan ISO.Sekarang saya ingin menulis lanjutan pembahasan sebelumnya tentang hubungan  salah satu dari 3 unsur tersebut yaitu: DOF (depht of field) yang keberadaannya sendiri tidak dapat dipisahkn dari bukaan lensa ( Aperture ).
DOF adalah ketajaman ruang yang ditimbulkan oleh ukuran bukaan lensa.Perbedaan antara mata kita dan lensa adalah lensa dapat menangkap visual gambar dengan ketajaman ruang yang terbatas.Caranya adalah dengan settingan bukaan lensa itu sendiri." Yang perlu diingat adalah semakin lebar bukaan lensa itu menganga semakin gambar yang dihasilkan memperoleh ketajaman ruang yang sempit ".
Gambar bukaan lensa
Pada bukaan lensa nilai Aperture dihitung dengan ukuran f-stop.Biasanya urutan bukaan lensa adalah f    1,f1.2,f1.4,f 2, f2.8,f 4,f 5.6,f 8, f11,f 16  dan seterusnya.Tiap-tiap nilai bukaan lensa memiliki ketajaman ruang (DOF) yang berbeda.Pada bukaan lensa 2,8 contohnya, foto yang dihasilkan akan sangat berbeda dengan foto hasil settingan bukaan lensa f22.


kedua gambar diatas dihasilkan dari settingan Aperture yang beda,sehingga hasil gambar memiliki ketajaman ruang yang berbeda pula

DOF biasanya digunakan pada saat photografer ingin menonjolkan sebuah objek dari objek lainnya dalam frame foto.Dengan demikian hasil foto yang didapat memperoleh sebuah foto dengan karakter objek yang kuat.Salah satunya adalah,jika anda mendengar istilah foto yang bokep maka anda sedang mendengar sebuah foto dengan ketajaman ruang yang sempit dengan karakter objek foto yang menonjol.
Salah satu hal yang penting dan wajib diperhatikan adalah,saat membuat foto dengan ketajaman ruang yang sempit dengan objek foto yang menonjol,pada saat melakukan pemotretan perlu dipastikan bahwa titik fokus foto berada pada tempat yang tepat.Sebab jika titik fokus ini tidak diperhatikan maka anda malah akan mendapatkan hasil foto yang miss fokus atau salah fokus.Jika anda mendapat foto yang salah fokus itu sama saja mendapat foto yang tidak sempurna.

titik fokus kamera harus diperhatikan agar mendapat foto yang tidak salah fokus.
kredit foto dari google

Senin, 09 Februari 2015

Memahami aperture,kecepatan rana,dan ISO

Dikesempatan lalu saya telah membahas sekelumit tentang apa itu exposure.Melanjutkan pembahasan sebelumnya sekarang  saya akan membahas mengenai unsur exposure yaitu: bukaan lensa ( Aperture ),kecepatan rana ( shutter speed ) dan ISO.
Untuk seorang photograper jika memahami 3 unsur esposure dengan baik,artinya dapat memahami hukum photograpy serta dapat meningkatkan kreatifitas lagi untuk mendapatkan sebuah foto.seorang photograper dapat memahami aturan photograpy dengan menciptakan seni foto bokeh,levitasi,light trail,bulb,panning dan lain-lain.
indikator settingan kamera yang terdapat pada layar kamera

agar lebih mudah diingat kita mulai dari unsur yang namanya mudah diingat terlebih dulu :

ISO
Pada kamera analog ISO disebut sebagai ASA dengan nilai kepekaan roll film terhadap cahaya.Pada kamera digital ISO fungsinya meningkatkan kepekaan sensor kamera pada cahaya yang masuk melalui bukaan lensa ( Aperture ) dan dibatasi oleh kecepatan rana.Nilai ISO diukur dengan bilangan 100,200,400,800,1600, dan seterusnya.
tombol ISO yang terdpat pada kamera.letaknya dekat dengan tombol rana

waktu penggunaannya yaitu,saat kita melakukan pemotretan pada siang hari yang terik dengan settingan kamera: ISO 100 dan bukaan lensa sekitar f7 kita mendapat  kecepatan rana kira-kira antara 1/500-1/800,namun saat kita melakukan pemotretan pada sore hari yang minim cahaya dengan settingan kamera yang sama kita hanya akan mendapatkan kecepatan rana antara 1/30-1/40 saja.
Pada kasus diatas jika kita menginginkan kecepatan rana yang lebih tinggi lagi agar menghasilkan foto lebih tajam dan tidak blur selain kita bisa memaksimalkan lebar bukaan lensa kita juga dapat menaikan nilai ISO disettingan kamera kita.Hal yang mesti diperhatikan adalah saat menggunakan ISO yang tinggi biasanya hasil foto akan beresiko noise.

Kecepatan rana ( shutter speed )
Pada setiap kamera terdapat alat yang berguna membatasi sensor kamera dari cahaya.Perhitungannya semakin banyak cahaya artinya semakin terang foto tersebut :silauuu menn.Sebaliknya semakin kurang sensor kamera dari cahaya foto yang dihasilkan akan gelap.Disinilah guna kecepatan rana dalam kamera.
Nilai kecepatan rana dihitung dengan ukuran perdetik .Dimulai (dari nilai rendah) seperti BULB,32",16",8",4",2,1 detik,1/2,1/4,1/8,1/16,1/32,1/64,1/125,1/250,1/500,1/1000 dan seterusnya (nilai kecepatan tinggi).kecepatannya bahkan bisa lebih cepat dari kedipan manusia.Semakin cepat kecepatan rana artinya semakin sedikit cahaya yang masuk lewat bukaan lensa dan jatuh disensor kamera.
Dengan mengekplor kecepatan rana anda dapat membuat foto levitasi,foto night trail,foto panning,foto frezee dan lainnya.
foto dengan kecepatan rendah menghasilkan cahaya yang bergerak seperti laju air.Saya menggunakan kecepatan rana sekitar 3 detik ,bukaan lensa f 11 dan ISO 100


Bukaan Lensa ( Aperture )
Setiap lensa yang kita memiliki dapat anda setting lebar dan sempit bukaannya.Urutannya dinilai dengan angka urutan mulai dari f1,f1.2,f1.4,f2,f2.8,f4,f5.6,f8,f11,f16 dan seterusnya.Biasanya semakin lebar kemampuan lensa terbuka semakin mahal harga lensa tersebut dijual.Karena memiliki tingkat kerumitan kamera tersebut diproduksi.
Yang perlu anda ingat dari settingan bukaan lensa adalah: semakin kecil nilai angka bukaan lensa contohnya:f1 atau f2,sebenarnya semakin lebar lensa itu terbuka.Sebaliknya semakin besar angka nilai bukaan lensa seperti : f16,f22 artinya semakin sempit bukaan lensa tersebut.
Satu hal lagi yang wajib diingat adalah:semakin semakin lebar bukaan lensa terbuka hasil foto yang didapat memiliki kedalaman ruang tajam (DOF) yang sempit.Sebaliknya semakin kecil bukaan lensa terbuka hasil foto yang dihasilkan memiliki kedalaman ruang yang luas (DOP)
Dari explorasi bukaan lensa inilah anda dapat menghasilkan foto yang bokeh maupun foto yang fokus dari ujung sampai ujung.
contoh foto dengan bukaan lensa lebar membuat kedalaman ruang foto ( DOF ) sempit


Sedikit memahami apa itu exposure

Exposure adalah hal penting yang terdapat dalam ilmu photography.Didalam exposure pula proses pembuatan foto terjadi.Berhasil atau tidaknya foto ditentukan oleh nilai exposure.
Dalam hal ini sebuah foto yang dapat disebut berhasil adalah foto yang memiliki exposure yang seimbang.Tidak gelap (under esposure UE) maupun tidak terlalu terang (over esposure OE).
contoh foto under esposure UE



 
contoh foto yang seimbang








 
contoh foto under exposure UE
Oleh sebab itu saat membuat sebuah foto diperlukan exposure yang seimbang.Yaitu dengan memperhatikan 3 unsur esposure seperti : bukaan lensa (aperture),kecepatan rana(shutter speed),dan ISO.Dengan memahami 3 unsur ini dengan baik maka anda sudah setengah jalan dalam tingkat pemahaman photoghapy.

gambar segitiga esposure

Jika kita ingin bermain analogi cara kerja photography untuk mendapatkan sebuah foto yang seimbang sebenarnya tidak jauh beda dengan saat anda menyeduh kopi misalnya.Bedanya jika photography untuk mendapatkan foto yang seimbang harus memperhatikan unsur exposure seperti: bukaan lensa,kecepatan rana,dan ISO, Mnyeduh kopi demi memperoleh rasa kopi  yang pas (tidak terlalu pahit maupun tidak terlalu manis) mesti memperhatikan takaran kopi,gula dan air.

Pada setting mode kamera manual ( M ) cara kerja kamera dikendalikan seluruhnya oleh tographer.Photograperlah yang menentukan sendiri berapa bukaan lensa,dan nilai ISO yang dia inginkan.Sedang untuk kecepatan rana biasanya tergantung ketersediaan cahaya yang ada pada saat melakukan pemotretan.Akan menyalahi hukum alam jika menggunakan kecepatan rana yang tinggi saat melakukan pemotretan pada saat minim cahaya seperti pada malam hari.Kecuali dengan dibantu dengan alat seperti flash contohnya.
Untuk mendapatkan sebuah foto dengan nilai esposure yang seimbang maka kita mesti memperhatikan indikator dari lightmeter yang ada pada tiap-tiap kamera digital.Seorang photografer hanya perlu mengintip dari viewfinder memastikan indikasi esposure harus tetap seimbang : ada di tengah-tengah ( nilai 0 ).
 
gambar yang ada penunjuk warna merah merupakan indikator light meter yang dapat ditemukan diviewfinder
Untuk membahas 3 unsur esposure lebih lanjut seperti :Bukaan lensa,kecepatan rana dan ISO secara satu persatu saya akan menguraikannya ditulisan yang akan datang.